Pada tanggal 6 November 2024, NASA'S Observatorium Dinamika Surya mencatat yang kuat jilatan api mataharimemuncak pada 08:40 ET. Suar ini, yang diklasifikasikan sebagai X2.3, cukup kuat sehingga berpotensi mengganggu sinyal radio, sistem navigasi, dan jaringan listrik di Bumi. Hal ini juga menimbulkan risiko signifikan bagi astronot dan pesawat ruang angkasa yang beroperasi di orbit.

Suar matahari adalah semburan energi dan cahaya yang terjadi secara tiba-tiba dari permukaan Matahari. Hal ini terjadi ketika medan magnet yang kuat di dalam Matahari menjadi terpelintir dan melepaskan energinya, mengirimkan radiasi yang kuat ke seluruh ruang angkasa. Radiasi ini mencakup spektrum yang luas, termasuk cahaya tampak, sinar-X, dan sinar ultraviolet, dan dapat melintasi tata surya dengan kecepatan hampir sama dengan kecepatan cahaya. Lidah api matahari sering dikaitkan dengan bintik matahari, yaitu daerah yang lebih dingin dan gelap di permukaan Matahari yang medan magnetnya sangat kuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lidah api matahari diklasifikasikan berdasarkan intensitasnya, dengan jenis yang paling intens adalah jilatan api kelas X, diikuti oleh jilatan api kelas M, kelas C, dan kelas B. Suar kelas X adalah yang terkuat dan dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap Bumi. Ketika suar kelas X diarahkan ke Bumi, hal ini dapat mengganggu lapisan atas atmosfer planet kita, menyebabkan gangguan pada komunikasi radio, GPS sinyal, dan bahkan jaringan listrik. Partikel matahari berenergi tinggi juga dapat menimbulkan bahaya bagi astronot dan satelit di orbit, sehingga berpotensi merusak perangkat elektronik yang sensitif.
Jilatan api matahari adalah bagian dari fenomena cuaca luar angkasa yang lebih luas, yang mencakup angin matahari dan lontaran massa korona (CMEs)—awan besar berisi partikel bermuatan yang dikeluarkan dari Matahari yang sering kali menyertai jilatan api matahari yang kuat. Para ilmuwan memantau dengan cermat aktivitas matahari untuk memprediksi jilatan api matahari dan mengurangi dampaknya terhadap Bumi dan luar angkasa. Solar Dynamics Observatory milik NASA dan teleskop surya lainnya di seluruh dunia membantu melacak letusan ini, menyediakan data penting untuk memahami dan merespons aktivitas matahari yang dapat berdampak pada teknologi modern dan eksplorasi ruang angkasa.

Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA adalah pesawat ruang angkasa yang didedikasikan untuk mempelajari atmosfer Matahari dan aktivitas magnetnya. Diluncurkan pada tahun 2010, SDO menyediakan gambar dan data beresolusi tinggi, menangkap aktivitas matahari dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya. Misi ini memainkan peran penting dalam upaya NASA untuk memahami cuaca luar angkasa, khususnya berfokus pada fenomena matahari seperti jilatan api matahari, bintik matahari, dan lontaran massa koronal (CME), yang dapat memengaruhi sistem komunikasi, satelit, dan jaringan listrik bumi.
Dilengkapi dengan tiga instrumen utama—Atmospheric Imaging Assembly (AIA), Helioseismic and Magnetic Imager (HMI), dan Extreme Ultraviolet Variability Experiment (EVE)—SDO mengukur medan magnet Matahari, mencitrakan atmosfer Matahari dalam berbagai panjang gelombang, dan memantau keluaran energinya. Kombinasi alat ini memungkinkan SDO melacak perubahan medan magnet Matahari, suhu, dan komposisi atmosfer, sehingga mengungkap bagaimana faktor-faktor ini mendorong aktivitas matahari.
SDO mengorbit Bumi pada titik menguntungkan yang memberikan pandangan berkelanjutan terhadap Matahari, mentransmisikan data real-time 24/7. Informasi yang dikumpulkan membantu para ilmuwan membuat prakiraan akurat mengenai peristiwa cuaca luar angkasa, yang sangat penting untuk melindungi teknologi bumi dan astronot di luar angkasa.
RakyatPos.ID Network









